Business Trap

No comment 586 views

Mungkin kita pernah mengamati teman, tetangga, sodara, adiknya sodara, kakak iparnya tetangga, adik ibunya sepupu tetangga dari teman kita atau siapapun yang punya sebuah bisnis, tapi kok sejak dulu bisnisnya begitu-begitu saja. Atau malah yang lebih parah, hidupnya jauh dari bahagia. Ada yang stres dikejar hutang, atau stres karena ditipu orang.

 

Yang saya amati, nampaknya bisnis punya jebakan-jebakan yang mampu membuat bisnis jalan di tempat, dan merepotkan kehidupan seseorang.

Tapi jangan berpikir tulisan ini riset atau sesuatu yang berbau ilmiah ya. Ini cuma pengamatan sok tau saya saja.

 

Rasanya ada banyak sekali jebakan-jebakannya. Ini 3 diantaranya… Here we go..

 

1. Bisnis orang selalu lebih “hijau” daripada bisnis kita

 

Ini biasanya terjadi pada kita yang baru saja memulai sebuah bisnis. Ketika menjalankan bisnis, lalu pencapaian bisnis biasa-biasa saja, biasanya selalu ada godaan untuk melirik bisnis yang sedang dijalankan orang lain.

Ketika kta merasa bisnis sepatu kita nggak berkembang, kita lalu mulai mengamati bisnis celana milik orang lain.

Hmmm…sepertinya lebih menguntungkan jualan celana ya..apa ganti jualan celana aja ya?”

Biasanya begitu suara bisikannya.

 

Mereka yang masuk jebakan ini lalu berganti bisnis. Mereka mengganti bisnisnya dengan bidang yang lain. Memulai lagi dari awal.

Jebakannya berhenti sampai disini? Tidak. Ketika seseorang sudah masuk jebakan sekali, biasanya akan ada jebakan yang sama di masa depan. Ya, jebakan yang sama persis.

 

 

Jebakan ini cukup berbahaya. Karena akan membuat korban berjalan tanpa tujuan, dan tak tahu arah jalan pulang #eh. Korban akan selalu melihat bisnis lain yang dianggapnya jauh lebih prospektif, lebih menguntungkan, atau lebih punya masa depan. Mereka akan selalu loncat-loncat dari satu bisnis ke bisnis lain. Karena korban akan selalu berputar di lingkaran yang sama terus menerus, jelas kondisinya tak akan pernah berubah jadi lebih baik. Mereka tak pernah menguasai salah satu bisnis. Hasilnya, ya mereka akan jalan di tempat.

 

Ini mirip menghindari lubang di jalan raya. Kita akan jauh lebih mudah menghindari lubang di jalanan ketika kita selalu melewati jalanan yang sama setiap hari. Daripada kita selalu berganti melewati jalan yang berbeda. Karena kita akan tau persis dimana letak lubangnya.

Begitupun bisnis. Andai seseorang bisa bertahan & fokus di salah satu bidang bisnis, dia bisa menguasai seluk beluk bisnis itu dengan sangat baik. Ketika sebuah bidang bisnis dikuasai dengan baik, nampaknya mustahil bisnisnya tak berkembang.

 

Hati-hati jika saat anda memulai bisnis, muncul kalimat tanya semacam, “Bisnis apa ya yang sekarang paling menguntungkan?”

Kalimat tanya itu biasanya muncul dari mindset yang keliru tentang bisnis. Semua bisnis pada dasarnya bisa menguntungkan. Saya punya teman yang bisnisnya hanya pin, gantungan kunci & asesoris sejenisnya.  Berapa keuntungan jualan asesoris semacam itu? Ah, paling besar hanya Rp.1000-Rp.2000 per piece. Tapi bisnisnya berkembang. Dia punya karyawan. Berkecukupan secara finansial. Syaratnya, fokuslah!

 

 

2. Tak sabar ingin cepat kaya.

Ah, ini juga jebakan yang berbahaya. Bagi mereka yang memulai bisnis dengan tujuan ingin jadi kaya, bersiap-siaplah dengan jebakan yang satu ini.

Ketika orang berbisnis dengan tujuan ingin kaya, sementara ia memulai bisnis dari nol, biasanya ada godaan untuk bisa kaya dalam waktu singkat. Jika tak bisa kaya dalam waktu singkat, biasanya muncul godaan yang mengarah ke jebakan pertama diatas. Loncat ke bisnis lain yang dianggap lebih bisa bikin cepat kaya. Apalagi yang memulai bisnis dengan iming-iming bisa punya mobil mewah, rumah mewah, bisa punya kapal pesiar dan sebagainya..hahaay…

 

 

Salahkah bertujuan menjadi kaya dengan bisnis? Ah, tentu tak salah. Hanya saja, kemungkinan godaan untuk tak sabarnya akan jauh lebih besar dibandingkan jika bertujuan untuk membantu banyak orang dengan membuka lapangan pekerjaan.

 

Saya mengamati beberapa teman yang sejak kuliah begitu semangat mengikuti bermacam-macam seminar & pelatihan bisnis. Setamat kuliah, lalu mereka mencoba bisnis. Loncat dari satu bisnis ke bisnis lain. Tak sampai 2 tahun, saya sudah mendapati mereka bekerja di sebuah perusahaan tekstil, atau beberapa yang lain sudah gagah dengan seragam pegawai negeri sipil. Bisnis bisa jadi tak melulu menawarkan kenyamanan, besarnya penghasilan, apalagi kepastian rezeki bulanan. Begitulah jebakannya. Hanya yang sabar yang mampu melewatinya. 

 

 

3. “Mau jadi investor di bisnis saya?”

Apa yang pertama kali dipikirkan orang ketika akan memulai bisnis? Yap. benar! Kemungkinan besar yang pertama kali dipikirkan adalah modal.

“Saya ingin mulai bisnis, tapi nggak punya modal”

“Saya ingin mulai bisnis, tapi modalnya dari mana ya?”

“Saya ingin mulai bisnis, ada nggak yang mau jadi investor?”

 

Beberapa hari lalu saya bertemu seorang teman. Tadinya dia adalah seorang karyawan di sebuah penerbit. Saat saya tanya, “Masih di penerbit itu?”

“Sudah nggak, sekarang sedang mulai usaha..” begitu katanya.

“wah keren. Usaha apa?” tanya saya

” Pakaian anak.. ini sedang nyari investor dulu…” 

 

Dari pengalaman saya, bisnis yang bermula dari mencari investor biasanya tak pernah jalan..haha.. Apalagi ketika si calon pengusaha benar-benar memulai dari NOL. Kenapa?

Logikanya sederhana, kalau saya punya uang, apa saya begitu bodoh menyerahkan uang saya untuk dikelola pada orang yang belum punya pengalaman apapun tentang bisnis yang akan dijalaninya?

 

Tapi itu kan saya. Saya beranggapan teman saya itu memang punya pengalaman yang sangat baik dalam bisnis pakaian anak. Eh tapi kan sebelumnya bekerja di penerbitan? oh..mungkin dia punya partner yang sangat menguasai bisnis pakaian anak.

Oke, kembali ke topik.

 

 

Jika teman-teman baru memulai bisnis, mulailah dengan modal seadanya. Bahkan jikapun kita hanya punya modal otak, ya sudah pakai otak saja. Melibatkan investor dalam bisnis yang baru dimulai, itu mirip baru belajar naik sepeda motor, tapi mau pinjem motornya mas Valentino Rossi. Mungkin mas Rossi akan meminjamkan. Tapi, apa tak ada resikonya ? Nah, kalau sudah jago ngebut pakai motor bebek, barulah boleh pinjam motornya mas Rossi.

 

Begitupun bisnis. Jebakan terbesar dalam memulai sebuah bisnis adalah meminjam uang untuk modal. Bukan tak boleh. Tapi terlalu beresiko. Ini bukan soal keberanian mengambil resiko. Ini soal kecerdasan. Kita adalah pemain baru. Belum terlalu paham seluk beluk dunia bisnis secara umum, dan bisnis kita khususnya. Manfaatkan saja apa yang ada dulu. Pintar-pintarlah memutar modal seadanya. Nanti begitu sudah sangat jago, bisnis sudah menemukan polanya, bolehlah berpikir untuk meminjam modal dari bank atau investor. Kalau tak pinjam dari bank atau investor gimana? ya lebih bagus! 😉

 

Nah, siap berlari? awas jebakannya ya!

 

Salam…

Ingin ngobrol dengan saya di twitter? sila follow saya di @JendralGagah

 

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.