Business Is Not Busyness!

No comment 814 views

Tadi siang (Ahad,15/2) saya bertemu seorang teman. Sama seperti saya, beliau pedagang fashion juga. Tapi saya kaget ketika melihat beliau begitu kurus. Tubuhnya jauh lebih kurus dari terakhir saya bertemu beliau beberapa bulan lalu. Wajahnya tirus & pucat. Saya tanya, “sehat kang?”, dia jawab, “Alhamdulillah sehat…”

Tapi saya tahu persis, dia sedang menyembunyikan sesuatu. Saya sangat yakin beliau sedang tak sehat. Meski saya yakin beliau tak mau mengakuinya. Secara sederhana, tak perlu cek medis, kita tentu bisa mencurigai & membedakan seseorang yang kurus sebab sakit atau program diet, kan?

Saya tau beliau memang pekerja keras. Sering tak kenal waktu ketika bekerja. Semoga beliau hanya sedang lelah. Dan saya berdoa semoga Allah selalu memberikan kesehatan padanya.

 

Salah satu jebakan terbesar dari seseorang yang memilih mendapatkan rezekinya lewat bisnis adalah ; kerja keras. Benar, kita mesti kerja keras, giat, tekun, tak kenal lelah, dan sebagainya. Tapi tubuh kita punya hak yang mesti ditunaikan. Tubuh kita punya hak untuk mendapat istirahat cukup, olah raga cukup, dan makanan bergizi. Bekerja keras, jelas bukan berarti mengabaikan hak tubuh kita. Karena begitu hak tubuh diabaikan, mau tak mau, cepat atau lambat, tubuh akan segera menuntut untuk diperhatikan. Sakit. Sakit adalah sunnatullah untuk “memaksa” kita menunaikan hak tubuh.

 

 

Itu kenapa saya membuat kelas online “Build Your Online Business”.  Agar para pedagang, agar teman-teman yang memilih mendapatkan rezekinya dari jualan, bisa membuatSISTEM yang jelas, rapi, dan baik dalam bisnisnya. Salah satu yang dibicarakan dalam sistem bisnis adalah merekrut orang untuk membantu menjalankan bisnisnya.

“Berarti  saya harus bayar orang? penghasilan saya berkurang dong!”  Itu yang biasanya dipikirkan kebanyakan orang ketika berwirausaha. Mereka memilih untuk mengerjakan semuanya sendiri, karena berpikir, penghasilannya tentu akan jauh lebih besar daripada kalau ia membayar karyawan.

 

Benar, kita akan membayar orang untuk mengerjakan pekerjaan kita. Benar, kita akan berbagi rezeki dengan orang lain. Karena sebuah sistem pasti menuntut & membutuhkan orang lain untuk bekerja bersama kita. Rezeki kita berkurang? SAMA SEKALI TIDAK. Rezeki kita justru akan bertambah. Kenapa?

 

Logikanya sederhana…

1. Kita jadi punya waktu lebih banyak untuk berpikir, membuat konsep bisnis, melihat peluang baru, dan apapun yang berpotensi membesarkan bisnis kita. Waktu kita jadi lebih banyak karena kita tak lagi menghabiskan waktu untuk mengerjakan pekerjaan teknis. Jika kita punya waktu lebih banyak, lebih banyak pula peluang baru yang bisa dieksekusi, makin besar pula potensi mengalirnya rezeki.

 

2. Kita jadi lebih punya tenaga lebih untuk bermain bersama anak, berolah raga, jalan-jalan dan menikmati hidup. Kualitas hidup kita akan jauh lebih meningkat ketika ada sistem yang berjalan dalam bisnis kita. Kualitas hidup meningkat = kesehatan meningkat. Kesehatan meningkat, berarti kita bisa mengerjakan pekerjaan lain, atau mengeksekusi bisnis baru. Kita juga tentu tak perlu mengeluarkan uang untuk berobat ke dokter. Karena tanpa sistem dalam bisnis, kita akan sangat sibuk. Tubuh kita akan lelah mengerjakan pekerjaan teknis. Ketika lelah, imunitas tubuh menurun, lebih mudah sakit. Kalau sudah sakit, tak usah diceritakan lagi lah seperti apa repotnya.

 

 

Jadi kita bisa simpulkan, bisnis yang baik seharusnya tak menuntut kita menjadi sangat sibuk.

Bisnis yang baik, seharusnya bisa memberikan kita kualitas hidup yang tinggi. Bisa punya banyak waktu untuk diri & keluarga. Bisa lebih sehat. Bisa lebih bahagia.

 

So, sudah ber-business atau masih ber-busyness ?

 

Sila berkunjung ke twitter saya @Jendralgagah

 

 

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.