Batagor Stroberi

No comment 725 views

“Baik pak.. saya mengerti kondisinya..semoga saya bisa menjalani keputusan ini…” kata Udin tertunduk lesu. Matanya mulai berkaca.

“ Mohon maaf ya pak Udin, saya tak bisa berbuat banyak. Semoga pak Udin segera mendapat ganti yang lebih baik.” Jawab lelaki berbaju kotak-kotak itu.

Udin pamit keluar dari ruangan atasannya dengan langkah gontai. Wajahnya tertunduk lesu. Sejak tadi ia berusaha keras menahan air yang nyaris tumpah dari kelopak matanya.

Ia berjalan cepat ke kamar mandi. Membuka pintu dan masuk ke kamar mandi. Ditengoknya ke kanan & kiri. Tak ada orang. Ia membuka keran di depannya sambil memandang dirinya di cermin. Ditampungnya air dengan kedua tapak tangannya, lalu menyiram wajahnya.

Berkali-kali ia menampung air itu untuk disiramnya ke wajahnya. Sambil bahunya terguncang-guncang. Tangisnya pecah. Ia tak mampu menahan lagi. Air matanya menetes deras. Bahunya terus berguncang. Hanya suaranya yang tiada.

 

Ini hari terberat dalam hidupnya. Dia harus merelakan karirnya kandas di perusahaan yang sudah bertahun-tahun menghidupi diri dan keluarganya.

Ya, Udin di rumahkan.

Ada sebuah kesalahan fatal yang tak bisa ditoleransi lagi oleh perusahaan. Meski itu bukan kesalahannya, tapi ia memang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan itu. Perusahaan mengalami kerugian nyaris mencapai 500juta atas kesalahan yang ia dan timnya lakukan.

Selama ini ia dikenal sebagai karyawan yang sangat produktif & loyal pada perusahaan. Sebenarnya, atasannya pun berat melepaskan Udin dari perusahaan itu. Sulit mencari pengganti sekelas Udin. Tapi begitulah peraturannya. Yang bertanggung jawab atas sebuah pekerjaan akan menanggung semua kesalahan. Apapun alasannya.

 

Udin membereskan barang-barang dari meja kerjanya. Ini hari terakhirnya di kantor. Setelah berpamitan pada teman-temannya, ia berjalan keluar meninggalkan kantor. Teman-teman Udin tak mampu menahan tangis melepas Udin. Terlebih teman-teman dalam timnya. Mereka merasa sangat bersalah karena Udin  yang harus menanggung kesalahan bersama.

Di mobil, Udin sulit sekali berkonsentrasi. Beberapa kali ia mengerem mendadak. Ia sedang membayangkan masa depannya. Kalau ia sendiri yang menghadapi kenyataan ini tentu bukan masalah besar. Ia tidak sendiri. Ada istri & anaknya yang juga akan menanggung akibat dari kondisi ini.

 

Ia berpikir keras, darimana ia akan mendapatkan pemasukan?

Berapa lama ia akan dapat pekerjaan lagi?

Berapa lama tabungannya cukup menghidupi keluarganya?

Dan segala macam pikiran yang membuat kepalanya terasa penuh sesak seakan mau meledak. Ingin saja ia melepas kepalanya sebentar, lalu merendamnya di bak mandi. Agar sedikit berkurang panasnya.

 

Udin tak ingin pulang dulu. Ia belum menyiapkan kata-kata yang pas untuk menyampaikan kondisi ini pada Surti, istrinya. Ia khawatir sekali istrinya tak siap dengan kondisi ini. Satu saja yang dikhawatirkannya, ia khawatir istrinya tertekan dengan keadaan sulit ini.

Udin membelokkan mobilnya ke sebuah rumah yang cukup asri. Ya itu rumah Kasrun. Sahabat baiknya yang selama ini banyak membantunya dalam segala urusan pernikahannya.

 

“ Aku butuh bantuanmu Srun!” kata Udin langsung.

“Ada apa Din? InsyaAllah, selama aku bisa, pasti aku bantu.”

Cerita Udin pun mengalir, dia menceritakan kronologisnya dari awal. Sampai akhirnya ia dirumahkan. Kasrun mendengarkannya dengan tenang. Ia hanya terlihat sesekali mengangguk-angguk.

“ begitu ceritanya…sekarang aku jobless. Aku tak tahu bagaimana mau menghidupi keluargaku. Kalaupun aku mencari kerja lagi, aku tak yakin akan bisa segera mendapatkannya. ”

“dan yang paling membuatku nyaris gila saat ini…aku tak tahu bagaimana cara menceritakan situasi ini pada istriku!” sambung Udin.

 

“Apa yang kau takutkan? “

“aku takut istriku tertekan. Selama ini kami sangat nyaman dengan kehidupan kami. Jika aku tak punya pekerjaan begini, keadaannya pasti berbalik 180 derajat.”

“ Kau sudah mengatakan pada istrimu?”

“ ya belum lah.”

“Oh, jadi kau sudah tau, istrimu akan sangat tertekan kalau kau katakan situasi ini? ” Tanya Kasrun.

“ hehee…ya nggak juga sih..”

 

“ Jadi apa yang harus aku lakukan?” Tanya Udin dengan wajahnya yang sangat tegang.

“ menurutmu apa yang lebih dulu harus kau lakukan?”

“ memberi tahu istriku.”

“ cepat atau lambat kau tetap akan memberitahu istrimu kan? Beritahu saja apa adanya. Aku yakin tak akan ada masalah. Istrimu itu wanita hebat Din. Percayalah.“ Kasrun meyakinkan.

 

Tak lama, Udin pamit pulang. Kasrun meminta Udin memberinya kabar setelah ia memberitahu istrinya nanti. Udin pun pamit pulang. Dengan langkah yang dikuat-kuatkan, ia berjalan menuju mobilnya yang diparkir di halaman.

Malam hari, di rumah, di meja makan, sambil menyantap makan malam. Udin memulai pembicaraan super serius & menegangkan itu.

“Dik, menurutmu..apa kemungkinan paling buruk di dunia ini?”

“Hmm… kalau yang paling parah sih, nampaknya nggak ada yang melebihi kematian.”

“ menurutmu, apa yang terjadi bila suatu masalah, tak sampai berujung kematian?”

“ Biasanya, masalah tersebut akan menguatkan orang itu. Sehingga, kapanpun ia mengalami masalah itu lagi, ia akan dengan tenang menghadapi masalah itu. Ini obrolan sambil makan kok berat banget sih?”

 

“Memang dik, ini bahasan berat. Aku seharian ini memikirkan bagaimana menyampaikan kepadamu.”

“ Ih, apan sih emangnya? Kok jadi bikin deg-degan gini..”

“Kalau kukatakan yang sebenarnya, apa kau akan marah padaku? Atau bahkan meninggalkan aku?” Tanya Udin hati-hati.

“ Ya tergantung, mau ngomong apa? Kalau mas Udin bilang nggak mau sholat lagi, ya jelas akan kutinggalkan. hehehe” jawab Surti bercanda. Ia menuang air ke gelasnya. Lalu menatap wajah suaminya.

“ Dik…aku dipecat!”

“ ooh..terus?”

“ ya aku dipecat dari kantorku.”

“ Iya, terus kenapa kalau dipecat?”

“ kamu nggak apa-apa? Nggak marah? Nggak sedih? Nggak kesal?”

“ Untuk apa? Memangnya kalau aku marah, sedih, kesal, mas bakal nggak jadi dipecat?” Tanya Surti sambil nyengir. Udin garuk-garuk kepala. Diluar dugaannya. Surti sama sekali tak terkejut saat tahu Udin dipecat.

 

“Aku masih belum mengerti. Kamu kok malah cengar-cengir begitu tahu suaminya dipecat? Kamu nggak takut nanti kita hidup susah? Nggak takut nanti nggak punya duit?” Tanya Udin.

Surti menggeleng dengan santai. “Nggak…”

“ kok bisa? “

“ Kenapa aku harus takut?”

“ Ya, normalnya kan begitu. Kalau orang nggak punya pekerjaan, ya harusnya gelisah karena dia nggak akan punya penghasilan.” Kata Udin

“ Mas…kita sudah pernah melewati masa-masa berat dalam pernikahan kita. Bukankah di awal-awal menikah dulu kita bahkan pernah kebingungan tak punya uang untuk makan? Dan kita bisa sampai di hari ini. Masih hidup. Masih bisa makan. Masih bisa bahagia. Kenapa harus ketakutan hanya karena dipecat? “ Jawab Surti mantap

 

“ Dan..aku ingin belajar dari Siti Hajar mas. Istrinya nabi Ibrahim. Bunda Hajar ditinggal suaminya di padang pasir yang tandus. Panas. Gersang. Tanpa bekal apapun.”

“Beliau tak pernah tahu darimana akan mendapatkan makanan/minuman. Sementara anaknya, Ismail sudah menangis-nangis sangat kehausan.”

“ Yang dilakukan siti Hajar hanya bergerak, melakukan sesuatu, berusaha mencari dimana ia bisa mendapatkan makanan/minuman. Ia tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Beliau berlari dari bukit ke bukit. Dari Shafa ke Marwa. Tanpa mempedulikan lelah tubuhnya.”

“ Satu saja yang ada di pikirannya ; anaknya bisa makan/minum. Dan satu saja yang diyakininya ; Allah yang menjamin rezekinya.”  Udin mendengarkan istrinya bicara dengan mata tak berkedip. Kedua tangannya ditelungkupkan di depan mulutnya.

 

“Dan kita tau kan, saat akhirnya Bunda Hajar terpekik senang, “Zamzam..!! zamzam..!! berkumpul..!! berkumpul..!!” ketika melihat ada air menggenang di bawah kaki Ismail setelah kaki bayinya itu menjejak-jejak pasir.”

“ Rupanya begitu cara Allah memberikan rezeki pada Siti Hajar & nabi Ismail. Siti Hajar tentu tak pernah menduga, bahwa beliau & anaknya akan menemukan mata air yang tidak akan pernah kering hingga hari kiamat nanti. Nampaknya Siti Hajar paham benar, bahwa manusia tak perlu memikirkan bagaimana cara Allah memberikan rezeki pada hambaNYA.”

“Begitu pun kita mas…aku yakin sekali, Allah tak akan pernah memiliki rencana buruk pada kita. Mas dipecat, pasti ada rencana terbaik dari Allah. Entah apa kita nggak pernah tau. Yang pasti, rezeki kita sudah disediakanNYA. Nggak mungkin tertukar. Nggak mungkin nggak dikasih. Yang penting kita mau menjemputnya.”

“kau benar dik…aku bangga padamu!” Udin menarik tubuh istrinya. Memeluknya erat. Mata Udin berkaca-kaca. Betapa ia seperti ditampar oleh penjelasan istrinya. Udin ber-istighfar berulang kali dalam hatinya. Ia beristighfar karena telah meragukan kebesaran Tuhannya.

Yang pasti ia bahagia sekali memiliki Surti. Kejernihan aqidah istrinya nampaknya sudah jauh melampaui dirinya. Istrinya tak meragukan sedikitpun rezeki dari Tuhannya.

 

***

Enam bulan kemudian…

Udin belum kunjung mendapatkan pekerjaan. Atau sepertinya dia sudah tak mungkin lagi mencari pekerjaan. Tak mungkin lagi dia bisa bekerja di perusahaan seperti dulu. Karena sekarang dia sudah sibuk mengurusi 100an outlet batagor stroberi-nya.

Dua minggu pasca dipecatnya Udin, ia & Surti langsung memutuskan membuka usaha. Ia beri nama usahanya Batagor Stroberi. Sebuah inovasi batagor berbumbu kuah stroberi. 2 bulan ia membuka usahanya itu, usahanya meledak. Orang yang membeli dagangannya bagai semut mengerubungi gula. Ia diserbu peminat kemitraan. Sekarang ada sekitar 100an outletnya tersebar di beberapa kota di Indonesia.

“kau benar Dik! Allah yang merencanakan semua ini.. kalau aku dulu tak dipecat, kita tak mungkin akan mendapatkan 9 pintu rezeki ini.”

Surti mengangguk sambil tersenyum. Dalam pikirannya terlintas sebuah ayat yang membuatnya mampu selalu menghasilkan #LogicalDecision dalam setiap masalah.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Ayat ini yang membuatnya selalu memiliki mindset yang positif menghadapi segala dinamika kehidupannya. Andai dulu ia secara emosional menghadapi suaminya yang dipecat, mereka pasti bertengkar hebat. Mungkin ia akan memaksa Udin untuk segera mencari pekerjaan lagi, mungkin akan beda lagi ceritanya. Tak mungkin ada batagor stroberi.

birds

 

EPILOG

Udin & Surti memang tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kehidupannya. Mereka hanya menjalani kehidupannya. Merencanakan hidupnya, lalu menyesuaikan rencana mereka dengan rencana Tuhannya.

Dan Allah-lah sebak-baik pembuat rencana…

 

-The end-

Ingin ngobrol dengan saya di Twitter ? Sila berkunjung ke Twitter saya @jendralgagah 

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply