Bahagia itu Efek Ataukah Sebab?

No comment 797 views

Kebahagiaan itu nampaknya jadi bahasan yang paling sulit dideskripsikan. Meski hanya dengan sebuah pertanyaan, “Apakah bahagia itu sebab, ataukah ia sebuah efek?”

Pertanyaan ini sering saya lempar ke teman-teman peserta training. Dan sudah jelas, para peserta terpecah menjadi dua kubu : kubu yang menjawab bahwa bahagia itu sebab & yang menjawab bahagia itu efek.

Yang paling penting, kita perlu pahami bahwa tidak ada jawaban benar & jawaban salah.

Semua jawaban benar, tentunya dengan persepsi masing-masing.

 

Bagi saya, jawabannya adalah ; Bahagia itu efek.

Bagi yang sering membaca buku pengembangan diri, seminar & pelatihan motivasi, akan menjawab “Loh, kan kita bisa memutuskan untuk bahagia kapanpun? Artinya, bahagia itu sebab. Bukan efek. ” 

Begini, saya meyakini bahwa bahagia adalah sebuah emosi. Ia adalah pengejawantahan dari sesuatu dalam diri yang disebut peRASAan. Dan saya meyakini, bahwa setiap peRASAan, adalah EFEK dari setiap cara berPIKIR. What you think, is what you feel. 

 

moving-boxes12-pfzgzu.

Sehingga, setiap peRASAan, bisa dipastikan adalah sebuah efek. Lalu apa sebabnya? Sebabnya adalah berPIKIR apapun yang membuat peRASAan itu muncul. Kita perlu sadari, bahwa semua kejadian di dunia ini bersifat NETRAL. Ia baru akan menjadi positif atau negatif, menyenangkan atau menjengkelkan, setelah mendapat peMAKNAan dari setiap manusia yang mengalaminya.

PeMAKNAan inilah proses berPIKIRnya. Setelah mendapat peMAKNAan, maka secara langsung, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, muncullah sebuah peRASAan.

Jikapun kita pernah mendengar celetukan, “Bahagia itu tak butuh sebab..”, mungkin kita bisa menggantinya dengan, “Apapun sebabnya, maka bahagia adalah efeknya..’

Think something, then you feel something!

 

Salam bahagia!

 

Ngobrol juga dengan saya di twitter @Jendralgagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply