Bagimu Jodohmu, Bagiku Jodohku

No comment 1803 views

Januari 2014

” Aku bingung… “ keluh Udin sambil mengusap muka dengan kedua telapak tangannya.

” Kenapa sih? ”  Tanya Kasrun sambil menyeruput kopi hitamnya.

Udin & Kasrun bersahabat baik sejak kecil. Sejak SD sampai SMA selalu duduk sebangku. Hampir tak ada masalah Udin yang tak diketahui Kasrun. Begitupun sebaliknya. Mereka bahkan saling mengetahui kebaikan dan kejelekan sahabatnya. Kasrun tahu tempat favorit Udin menempelkan upilnya. Udin tahu persis kebiasaan Kasrun kentut sembarangan. Udin juga tahu persis sahabatnya itu tak pernah meninggalkan puasa senin-kamis. Kasrun pun tahu persis kebiasaan Udin memijat kaki ibunya setiap malam sebelum ibunya tidur.

 

Hanya di bangku kuliahan mereka berpisah. Udin kuliah di sastra Batak, Kasrun kuliah di teknik Knalpot. Tak perlu dibahas apakah kedua fakultas ada di universitas mana. Tak penting lah itu. Yang penting, begitulah Udin dan Kasrun.

” Ibuku sudah sibuk nanya kapan aku mau nikah.. ” 

” Wajar dong. Dimana masalahnya? ” 

” Aku belum punya apa-apa untuk menikah. Kerja baru dua tahun. Gaji segitu-gitu saja. Lagipula, apa ada yang mau? ” 

” ya memang sih, nggak mungkin ada yang mau!” jawab Kasrun datar.

” Semprul! Bukannya ngasi semangat malah njelekin begitu!” Kasrun terbahak

 

 

April 2014

Suatu sore di sebuah masjid. Masjid itu begitu teduh sebab banyak pepohonan di sekitarnya. Kasrun Baru saja menutup doanya, setelah shalat Asar berjamaah. Seorang lelaki mendatangi & menepuk pundaknya.

” Srun, dapet Srun!”  Pekik Udin dengan suara tertahan. Wajahnya sumringah. Senyumnya mengembang. Sudah dua bulan mereka tak bertemu, sejak terakhir bertemu. Sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

” Dapet apa? Kamu menang undian? “ tanya Kasrun bingung.

” Calon istri Srun..calon istri..! ” 

” Oya? terus, sudah sampai mana?”

” Aku sudah silaturahim ke orang tuanya..” 

” Wah, diem-diem udah dateng ke orangtua aja. Terus, gimana ? ” 

” Alhamdulillah.. orangtuanya nggak ada masalah. Katanya, kalau aku memang serius. Langsung ajak orangtuaku untuk melamar..” 

” Kamu udah yakin dengan pilihanmu ini Din? Ini bukan keputusan sederhana loh..”  Tanya Kasrun. Kasrun sudah lebih dulu menikah. Anaknya dua. Dan Kasrun tahu persis seperti apa karakter Udin. Salah satu kelemahan Udin adalah ia cenderung mudah menjadi ragu setelah mengambil sebuah keputusan.

Keputusan apapun itu. Bahkan untuk keputusan sesederhana memesan nasi goreng atau mie goreng. Pernah suatu hari Kasrun dan Udin ingin makan malam. Kasrun sudah hampir selesai makan, Udin belum juga memutuskan akan memesan nasi goreng atau mie goreng. Parah!

” InsyaAllah sudah…anaknya cantik, baik hati dan insyaAllah shalihah. Aku sudah mantap Srun. Kau doakan sajalah supaya lancar” 

” iya deh, semoga keputusanmu ini diridhai Allah.. aamiin” 

 

 

 

Mei 2014

Hasil pembicaraan kedua keluarga hari itu sungguh membuat hati Udin semakin bahagia. Sebentar lagi ia akan mengakhiri masa lajangnya. Usianya memang belum kepala tiga. Tapi bagi Udin itu sudah cukup terlambat. Kasrun sudah punya anak dua. Padahal mereka seumuran.

Tapi tak lama lagi statusnya akan berubah.

Ya sebentar lagi. Pernikahan akan dilaksanakan tepat dua bulan setelah hari lamaran itu.

Dua bulan lagi statusnya akan berganti menjadi seorang suami. Seorang pria yang segera menggenapkan separuh agamanya. Ia terngiang perkataan seorang ustadz padanya beberapa tahun lalu.

“Se-sholeh apapun ente saat ini Din, agama ente masih separoh selama ente masih bujangan..segeralah menikah!” 

Dua bulan lagi, tanggung jawabnya akan bertambah. Ada seorang wanita yang akan menjadi tanggung jawabnya. Ada seorang wanita yang wajib ia jaga di sisa usianya. Dua bulan lagi, ia akan menjadi seorang lelaki sejati, yang menjadi nahkoda sebuah kapal yang bernama rumah tangga. Dua bulan lagi kehidupan akan berubah.

Yang juga paling penting, tak akan ada lagi pertanyaan, “Kapan nikah?”

 

 

Juni 2014 

Udin menutup laptopnya. Tadi adalah agenda terakhirnya, mengajar bahasa Batak untuk sepuluh orang bule dari Portugal. Bule-bule Portugal itu rencananya akan membangun sebuah hotel di pelosok Tapanuli Utara sana. Menurut riset dari para bule itu, Tapanuli Utara & Tapanuli Selatan akan mengalami perkembangan pesat di tahun 2020. Mereka sangat yakin daerah itu akan menjadi ladang emas yang sangat menggiurkan.

Saat membereskan tasnya, sebuah BBM masuk.

” Mas, saya baru kirim email.. tolong dicek ya..”  Sebuah pesan dari Hani. Calon istrinya. Tiba-tiba jantungnya berdetak lima kali lipat lebih kencang dari sebelumnya. Ia penasaran. Ada apa gerangan calon istrinya itu mengirim e-mail. Kenapa tak langsung katakan di BBM saja? Ada yang aneh.

Ia memutuskan mengeluarkan kembali laptop yang tadi sudah dimasukkan ke dalam tas. Cepat-cepat ia menyalakan laptopnya & menyambungkan ke internet.

Ia mulai membaca e-mail dari Hani…

***

Assalamualaikum wr wrb

Kepada mas Izzuddin yang saya hormati…

 

Saya tak tahu harus memulai ini darimana. Tadinya saya ingin mengatakannya secara langsung. Bicara empat mata dengan mas Udin. Tapi saya ragu bisa kuat jika harus mengatakannya di hadapan mas Udin.

Mas Udin yang baik, saya memohon keikhlasan hati mas Udin untuk membatalkan rencana pernikahan kita. 

Saya sungguh mohon maaf, saya tak mungkin melanjutkan ini. Saya tak bisa membohongi perasaan saya. Saya merasa harus mengatakan ini, atau saya akan menyesal sepanjang hidup saya. Saya mencintai orang lain mas. Saya berpikir lebih baik saya mengatakan ini sekarang sebelum segalanya menjadi semakin rumit. Sungguh saya dilema teramat sangat saat menerima lamaran mas Udin. Mas Udin orang yang sangat baik. Tapi sesungguhnya bukan yang saya harapkan. Maafkan saya telah membuat semua berantakan. Mungkin setelah ini, seluruh dunia akan menghukum saya.

Saya paham, mas Udin mungkin akan membenci saya seumur hidup. Tapi saya rasa itu jauh lebih baik daripada kita harus terjebak dalam pernikahan yang tanpa kebahagiaan. 

Saya sangat berharap mas Udin bersedia memaafkan saya…

 

Saya yang berharap bisa membalik waktu..

Hani

 

***

Duarrr! 

Rasanya ia seperti tersambar petir membaca rangkaian kalimat di e-mail itu. Rangkaian kalimat yang nyaris tak bisa ia percaya. Entah apa yang ia rasakan saat itu. Matanya berkali-berkali membaca ulang rangkaian kalimat di layar laptopnya itu. Ia berharap ia hanya salah baca. Tapi ia tak salah baca. Ia sadar ia sudah benar-benar lancar membaca sejak TK Nol Besar.

Air matanya menetes deras. Ia berusaha keras menahan air matanya agar berhenti mengalir. Berkali-kali ia usap matanya dengan punggung tangannya. Tapi air matanya malah mengalir semakin deras.

Ia membaca lagi kata demi kata di surat itu. Berharap isinya berubah…

Bersambung  

Selanjutnya, klik >> “Bagimu Jodohmu, Bagiku Jodohku” Part II

 

QS. Ar Rum: 21

QS. Ar Rum: 21

Salam

Ingin ngobrol dengan saya di twitter? follow twitter saya @JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.