Bagimu Jodohmu, Bagiku Jodohku Part II

No comment 1630 views

“Woy…jalan yuk!” Begitu tulisan yang muncul di layar BBM Udin. Pesan BBM dari Kasrun. BBM itu membuyarkan lamunannya. Ya, pasca kejadian dibatalkan pernikahannya, Udin jadi lebih sering melamun. Sebenarnya Udin mencoba bersikap biasa saja pasca batalnya pernikahan dengan Hani sebulan lalu. Tapi nampaknya itu bukan hal yang mudah. Dadanya selalu terasa sesak setiap kali mengingat batalnya pernikahannya itu.

 

Andai bisa membalik waktu, rasanya ia ingin sekali menarik semua undangan yang telah disebar. Entah kenapa sewaktu ingin menyebar undangan, ia ingin dilambat-lambatkan saja. Tapi kata keluarga, “Harus segera disebar. Sebulan sebelum hari H sudah pas kok untuk menyebar undangan. Biar orang-orang langsung mengagendakan untuk hadir di nikahan kamu!”

 

Ingin sekali dia berteriak, “Apa saya bilang! Nanti saja menyebar undangannya!” 

 

Kalau ingin hitung-hitungan biaya, sudah lumayan juga biaya yang keluar. Biaya untuk cetak undangan, biaya untuk bikin baju pengantin, pesan makanan, sewa gedung, dan lain sebagainya. Tapi tentu bukan itu masalah utamanya. Udin merasa, batalnya sebuah pernikahan itu adalah aib. Aib dirinya, juga tentu aib keluarga.

 

Ia marah sekali pada mantan calon istrinya itu. Kalau memang tak ingin menikah, kenapa mengiyakan? Kalau memang masih ada orang lain yang diharapkan, kenapa mengiyakan? Kalau memang belum bisa move on, kenapa harus mengiyakan? Toh tak ada yang memaksa untuk menikah! Apa dia tak bisa berpikir masalah yang ditimbulkannya? Mungkin tak ada masalah dengan diri & keluarganya. Tapi apa dia tak berpikir bahwa tindakannya itu menyakiti orang lain? Begitu yang ada di pikiran Udin.

 

***

 

Sore itu Udin & Kasrun bertemu di tempat favorit mereka. Cafe Capung. Pasukan hujan masih belum habis menyerang bumi dengan basahnya. Masih ada milyaran tetes yang setia menghempaskan dirinya ke tanah. Udin memesan segelas Hot Chocolate dan seporsi tempe mendoan kesukaannya. Kasrun seperti biasa memesan Hot Lemon tea

 

” Aku cengeng ya Srun? ” 

” kenapa? ”  Tanya Kasrun

” Baru ditinggal calon istri, sudah kayak dunia mau kiamat..”  jawab Udin sambil nyengir.

” nah, itu nyadar…”  Kasrun nyengir juga

 

” Aku bingung harus gimana..! Aku udah coba bersikap biasa aja. Tapi setiap kali ingat kejadian itu, dadaku seperti ingin meledak.”  

” Aku boleh cerita ya Din..” 

” Iya, silakan…”

 

” Dulu saat tinggal di Jogja, istriku punya seorang teman. Namanya sebut saja Intan. Intan mengenal seorang pria dari kakaknya. Anggap namanya Riyan. Singkat cerita, mereka pun merencanakan menikah. Setelah lamaran, tanggal pernikahan pun ditetapkan. Semua disiapkan. Persis seperti yang telah kau lakukan. Beberapa hari sebelum hari H, ada kejadian aneh…”

 

“…Calon suaminya tak bisa dihubungi. Semua nomor handphone yang dimiliki calon suaminya tak bisa dihubungi. Intan mendatangi rumah kontrakan calon suaminya. Dia kaget bukan kepalang saat yang punya kontrakan bilang bahwa Riyan sudah pergi beberapa hari lalu. Intan tak tahu mau menghubungi siapa-siapa lagi. Saat lamaran, dia memang bertemu calon mertuanya. Tapi Intan tak punya nomor kontaknya. Mau mendatangi rumahnya di Medan, dia tak punya alamatnya.” 

 

” Intan panik! Hanya beberapa hari mau menikah, calon suaminya menghilang seperti ditelan segitiga bermuda. Intan mencoba berpikir positif dan menenangkan dirinya. Tapi tak bisa. Jantungnya tak mau berdetak pelan. Sesak di dadanya tak sejam pun mau menghilang. Ia tak selera makan & tak bisa tidur. H-1 tanggal pernikahannya, ia mendapat telepon dari calon ibu mertuanya. Calon mertuanya mengabarkan bahwa Riyan sekarang sudah berada di Amerika. Ia memutuskan membatalkan pernikahan. Entah apa sebabnya. Riyan tak mau sebutkan alasan ke orangtuanya. Ibunya Riyan berulang kali memohon maaf.” 

 

 

” Din…kau bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Kasrun

” Intan bunuh diri? Persis seperti kisah di sinetron atau novel-novel..”  jawab Udin. Kasrun menggeleng.

” Setelah terima telepon, Intan jatuh pingsan, koma dan akhirnya meninggal..”  jawab Udin lagi.

” Ah, kau terlalu sering nonton sinetron Din! 

 

” Jadi apa yang terjadi pada Intan? ”  tanya Udin mulai penasaran

 

”  Setelah dapat telpon itu, dengan kepala tegak, sambil tersenyum dia ceritakan kepada orangtuanya. Ibunya Intan menangis terisak. Menangisi keadaan anak gadisnya. Tapi justru Intan yang menenangkan ibunya. Dia lalu mengirim pesan singkat ke seluruh teman, saudara dan semua orang yang sudah diundang ke pernikahannya, mengabarkan bahwa pernikahannya batal.” 

” Tak sedikit teman-teman yang penasaran langsung menelponnya. Intan menjawab dengan santai. Istriku salah satu temannya yang amat sangat penasaran. Apa yang terjadi sebenarnya? Istriku datang ke rumah Intan. Bertanya langsung padanya. Dia menceritakan kronologisnya dengan sangat detil. Saat dia bercerita, istriku mendengarkan baik-baik getaran suaranya. Tapi tak ada sedikitpun getaran tanda sedih, kesal, marah atau sejenisnya. Yang pasti tak ada air mata Intan yang jatuh setetespun. Wanita ini ajaib.” 

 

” Ini cuma cerita karanganmu saja kan Srun..supaya aku tak marah dan sedih lagi? ” 

” Ah, kau kan tau, nilai bahasa Indonesiaku kalau menulis karangan tak pernah bagus. Mana bisa aku mengarang cerita. Ini nyata. Intan memang teman istriku sewaktu di kampus.”  

” Kok bisa ya Intan seperti itu? Padahal yang dialaminya lebih mengerikan dari yang kualami..” ujar Udin

” Entah apa sebab dia bisa sekuat itu. Waktu ditanya istriku, ada satu ucapannya yang sangat diingat istriku..”

 

Dia bilang, ” Hah! Aku harus menangis? untuk apa? Aku justru bersyukur tak jadi menikah dengannya. Kalau dia meninggalkanku setelah kami menikah, akan lebih runyam lagi urusannya. Jadi aku sangat bersyukur dia meninggalkanku sekarang. Lagipula, ini adalah takdirku. Sudah ada di Lauhul Mahfuzh. Big Book of Allah. Nama dia dan namaku sudah ada disana. Kejadian ini sudah tertulis lengkap disana. Jodohku berarti bukan dia. Aku tinggal melanjutkan kehidupan, dan bertemu dengan takdir kehidupan lainnya. Jodohku pasti ada. Entah siapa. Pasti dihadirkanNYA!” ” Jelas Kasrun

 

 

Agustus 2014

 

Kehidupan berlanjut. Udin & Kasrun menjalankan kehidupannya masing-masing. Udin sudah kembali seperti semula. Kembali bersemangat menata hari-harinya. Dia menyadari, adalah sebuah kebodohan berlarut dalam kesedihan. Padahal kesedihan itu tak pernah membawa manfaat apapun bagi dirinya. Andai kesedihan & trauma itu bisa menghasilkan tambahan gaji, bolehlah antri untuk sedih & trauma.

“Hidup terlalu indah untuk dihabiskan dalam kesedihan tak berujung..” begitu kata Udin kepada Kasrun beberapa minggu lalu. Kasrun hanya cengengesan mendengar Udin berkata itu. Dia ingat beberapa waktu lalu setelah batal nikah, Udin persis aktor film India sedang patah hati. Sayangnya tak ada pohon dan musik. Andai ada, pasti dia nyanyi dan berjoget.

 

 

September 2014

 

“Jodoh itu persis seperti rezeki yang disediakan Allah untuk kehidupan manusia. Benar-benar sebuah kepastian. Setiap orang memiliki jodohnya masing-masing. Tak mungkin tertukar. Jika tak berjodoh dengan seseorang, maka jodohnya pasti yang lain.” masih terngiang di telinga Udin kata-kata dari ustadz yang tadi mengisi pengajian di masjid. Keyakinannya akan jodoh semakin kuat. Bahwa, mustahil seseorang tak mendapatkan jodohnya. Kebanyakan orang yang kesulitan menemukan jodohnya, disebabkan dirinya sendiri. Ia sangat yakin akan bertemu jodohnya. Entah kapan. Entah dengan siapa. Ia memasrahkan sepenuhnya kepada Dzat yang maha menggenggam jiwa manusia.

 

Udin berjalan ke arah tempat parkir sepeda motor. Sesampainya disana, rupanya ia masih harus menunggu motor lainnya keluar. Karena motor Udin terhalangi motor lainnya.

Brukk!

Udin kaget. Sebuah motor yang sedang mundur menabrak motornya.

“Eh maaf mas..maaf banget…saya nggak sengaja. Kirain tadi nggak akan kena..” 

“iya mbak gpp..santai aja”  jawab Udin.

 

“Ada apa Lyr…?”  Tanya seorang wanita lain yang baru datang.

” ini tadi aku mundurin motor, tapi nggak sengaja nabrak motornya mas ini..” jelasnya

” Loh..Udin!” 

” Eh, Fitri?!” 

” Wah nggak nyangka ketemu disini! Apa kabar?” 

” Baik Fit Alhamdulillah…udah lama ya nggak ketemu..”  Jawab Udin

” Iya udah lama banget nggak ketemu. Oiya kenalin, ini sepupu aku, Lyrra.” Fitri memperkenalkan sepupunya. Yang diperkenalkan mengangguk & tersenyum ke Udin. Udin membalas senyuman & anggukan kepalanya.

 

Tak lama mereka ada di tempat parkir itu. Setelah basa-basi, Udin & Fitri bertukar nomor kontak, lalu mereka pun berpisah.

 

 

 

November 2014

 

Udin sedang asyik menekuri mushaf kecilnya. Baginya, ayat-ayat Al Quran adalah obat segala kegelisahan jiwa. Kelak, ia ingin membangun keluarga yang akrab dengan Al Qur’an. Dan ia bertekad, semua harus bermula dari dirinya. Jika ia ingin anak-anaknya akrab dengan Al Qur’an, maka anak-anaknya harus memiliki ayah & ibu yang juga akrab dengan Al Quran. Artinya, ia harus memilih istri yang akrab dengan Al Quran. Seseorang yang akrab dengan Al Quran, hanya pantas bersanding dengan yang akrab dengan Al Quran pula. Begitu logika di pikiran Udin.

 

Udin baru saja berhenti di Ayat ke 20 surat At Taubah, ketika seseorang mengirim Ping!!!  di handphone-nya.

 

” Aku punya berita baik untukmu…”  begitu bunyi pesannya. Dari Kasrun.

” Berita apaan? “

” Urusan pernikahan. Tapi aku mau memastikan, kau benar-benar sudah siap melangkah lagi? ” 

” InsyaAllah sudah siap…ada apa sih memangnya?” 

” Yakin? ” 

 

” Iyaaa.. yakin!” 

” Siap dengan apapun kemungkinan yang akan terjadi? ” 

” Iya aku siap.” 

” Meski lebih menyakitkan daripada sebelumnya?” 

” Iya, iya.. udah deh..ngomong aja langsung. Kau punya berita apa sebenarnya?”  Udin penasaran

 

 

” Begini, istriku punya seorang teman. Cantik, cerdas & insyaAllah shalihah. Dia sudah siap menikah. Dia menyampaikan pada adik iparku agar aku membantu mencarikan jodoh untuknya. Aku juga nggak ngerti kenapa aku yang diminta membantunya. Ya sudah, aku langsung teringat kamu…” 

” Ceritakan sedikitlah tentangnya…”  Udin makin penasaran

” Dulu dia kuliah di Farmasi UE. Sekarang bekerja di perusahaan Jepang. Anak kedua dari 3 bersaudara..”

” Namanya ? ” tanya Udin

Lama pesannya tak dibalas. Huruf di layar handphone-nya masih “D”. Belum terbaca. 5 menit berlalu, belum ada balasan juga dari Kasrun. 10 menit kemudian baru ada balasan..

 

“Namanya Zetilyrra Sofia..Panggilannya Lyrra. Kau pernah mendengar namanya di ceritaku sebagai Intan…”

Degg! Huruf-huruf terakhir yang merangkai sebuah nama itu tiba-tiba membuat jantungnya berdegup lebih keras. Pikirannya melayang pada sosok yang menabrak motornya disebuah tempat parkir beberapa bulan lalu. Sosok yang juga pernah diceritakan sahabatnya beberapa bulan lalu.

 

Selamanya Cinta

The End

 

Salam

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @JendralGagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.