5 JURUS ATUR UANG BISNIS

No comment 898 views

 

Kita paham sekali, bahwa bisnis yang baik adalah yang dikelola dengan baik. Nah, salah satu indikator baiknya pengelolaan sebuah bisnis adalah ; baiknya pengelolaan keuangan di dalamnya.

 

Ini yang saya yakin jarang sekali disadari oleh para pelaku bisnis. Terutama para pelaku bisnis pemula. Kebanyakan para pelaku bisnis pemula, sangat berfokus pada marketing. Fokus kebanyakan para pelaku bisnis pemula biasanya adalah bagaimana meningkatkan omzet, sehingga menghabiskan banyak sekali energi untuk memperbesar angka penjualan di bisnisnya. Nggak salah tentunya. Hanya saja, saya banyak menemukan bisnis yang akhirnya galau, dan akhirnya tewas, karena angka omzetnya besar, tapi uangnya nggak ada. Omzetnya sekadar angka di atas kertas, atau cuma rentetan mutasi rekening yang menggiurkan. Tapi ya begitu, uangnya tak ada.

 

Kenapa bisa begitu?

 

Jawabannya jelas ; pengelolaan keuangan yang berantakan.

 

Mengelola keuangan bisnis berbeda dengan mengelola keuangan keluarga. Mengelola keuangan dalam bisnis tentu lebih complicated dan perlu kejelian dan keahlian lebih dalam pengelolaannya. Meski jika sudah memiliki ilmunya, semuanya akan lebih mudah.

 

Ada 5 hal penting yang perlu kita perhatikan :

 

Pertama, UANG BISNIS harus BERCERAI dengan UANG PRIBADI.

Dua hal yang tak boleh bersatu di dunia ini adalah ; uang bisnis dan uang pribadi. Keduanya harus terpisah. Tak boleh sekalipun mencampurnya menjadi satu. Kenapa? Karena kita akan kebingungan nantinya. Diawali dari mudahnya kita menggunakan uang pribadi untuk bisnis, atau yang lebih parahnya, menggunakan uang bisnis untuk kepentingan pribadi.

Kalau uang bisnis itu 100% uang kita sendiri, mungkin belum terlalu signifikan pengaruhnya. Tapi kalau sudah ada uang orang (red : investor), wah jangan pernah main-main, urusannya bisa dengan pak polisi.

 

Kedua, perjelas PERSENTASE keuangan

Kesalahan terbesar para pelaku bisnis pemula adalah menganggap pemasukannya adalah keuntungannya. Dia tau sih pemasukannya itu bukan semuanya keuntungan. Tapi, kelakuannya itu loh, tanpa disadari seolah menganggap semua pemasukannya adalah keuntungan. Bisnis laris, pemasukan besar, langsung foya-foya ganti gadget baru, beli baju baru, beli ini beli itu. Setelah uang habis, baru sadar harus bayar karyawan, bayar listrik, bayar ini bayar itu. Baru kelabakan, uang darimana?

Jadi, perjelas persentase keuangan bisnis kita. Dari 100 % pemasukan, alokasikan langsung untuk gaji karyawan, untuk operasional, untuk pengembangan usaha dan sisanya untuk kas perusahaan. Misalnya : 30% gaji, 30% operasional, 30% pengembangan usaha, dan 10% untuk kas. 30% untuk gaji karyawan, termasuk gaji kita sebagai pemilik bisnis. 30% untuk operasional bayar listrik, sewa tempat, bensin dan lainnya. 30% untuk pengembangan usaha, tambah aset bisnis kita misal menambah komputer, tambah kamera, tambah ini itu dan semua hal yang memungkinkan akan membesarkan bisnis kita. 10% untuk kas bisnis, nantinya bisa digunakan untuk banyak hal tak terduga.

Semakin jelas, semakin mudah kita menjalankan roda bisnis kita.

 

Ketiga, buat PEMBUKUAN dengan rapi

Jika ingin semua hal diatas berjalan lancar, kita perlu kemampuan pencatatan yang baik. Sehingga kita bisa mengontrol semua transaksi keuangan, baik pemasukan, pengeluaran, serta utang dan piutang. Kalau punya teman atau mentor bisnis yang sudah punya usaha lebih matang, kita bisa minta diajari cara membuat format pencatatannya.

Semakin rapi, semakin mudah kita mengawasi perkembangan bisnis kita. Jika ada yang tak beres, semakin mudah kita deteksi sejak awal. Seperti yang saya sampaikan di seminar online bit.ly/AturUangBisnis , kita ingin agar bisnis kita panjang umur. Salah satu syarat pentingnya adalah rapinya pengelolaan keuangan dalam bisnis kita.

 

Keempat, kurangi RESIKO dari UTANG usaha

Saya belajar banyak dari mindset orang tua saya. Mungkin orang melihat mereka sangat kuno, kolot, lambat karena tak berani meminjam uang untuk modal bisnis dari bank. Tapi terbukti, orangtua saya cenderung lebih TENANG dalam menjalankan bisnis. Karena modal bisnis mereka, 100% berasal dari kantong mereka. Kita belum bicara soal riba dan kawan-kawannya. Kita cuma bicara soal ketenangan dalam menjalankan bisnis yang minim hutang.

Begitupun saya, yang sampai saat ini masih sangat kolot yang tak berani & tak berminat meminjam uang dari bank untuk pengembangan bisnis. Ada kepuasan besar saat saya bisa mengembangkan bisnis murni 100% dari dengkul sendiri. Tanpa pinjaman dari manapun,entah dari bank, apalagi modal dari orang tua. Meskipun pinjaman paling lunak di dunia ini adalah pinjaman dari orang tua 😀

Jikapun terpaksa harus berhutang, pastikan kita tahu persis, darimana sumber uang untuk kita membayar hutang itu.

 

Kelima, DISIPLIN mengontrol kelancaran arus kas usaha.

Tak perlu penjelasan lah bagian ini ya. Anda sudah tau sendiri, apa arti kata disiplin. Tanpa kedisiplinan, semua hal diatas hanya akan jadi isapan jempol belaka.

 

Oke, mari berjanji pada diri sendiri untuk lebih rapi dalam pengelolaan keuangan bisnis kita!

Selamat merapikan keuangan bisnis!

 

Salam

Ngobrol juga dengan saya di twitter @Jendralgagah

Suka dengan artikel ini? Dapatkan update terbaru melalui email:

author
Author: 
Nama asli saya..hmm..ah perlu disebutkan nggak ya? hehe.. Mengapa jadi Ki Jendral Nasution? Ah, jawabannya sederhana. Sekadar agar mudah diingat sesiapa yang menyebutnya. Saya lahir di Medan, beberapa puluh tahun lalu, dari keluarga dengan suku Mandailing. Dengan marga Nasution. Sejak kecil, nampaknya sudah menggemari aktifitas menulis & bicara. Sewaktu di Sekolah Dasar, pelajaran yang paling saya senangi adalah Bahasa Indonesia. Terutama ketika disuruh mengarang. Bagi saya, adalah sebuah keasyikan luar biasa, ketika bisa mengeluarkan apa saja yang ada di kepala, menjadi rangkaian kalimat yang punya makna.. Selengkapnya klik disini

Leave a Reply